Jenderal AS Prediksi Serangan Rusia ke Ukraina Bakal Mengerikan, Mampukah Barat Menghentikannya?

Rusia disebut sebut bakal melakukan invasi besar besaran ke Ukraina pada awal 2022, meski laporan itu berkali kali dibantah Kremlin. Seperti diketahui, sejak tahun lalu, Rusia mengerahkan sekitar 100.000 pasukan serta ribuan perangkat militer ke dekat perbatasan Ukraina yang memicu kekhawatiran Barat akan perang lanjutan. Jenderal Militer Amerika Serikat (AS) Mark Milley bahkan memperkirakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina akan mengerikan dan akan menelan sejumlah besar korban.

Jenderal Milley menggambarkan penumpukan 100.000 tentara Rusia di dekat perbatasan Ukraina sebagai yang terbesar sejak Perang Dingin. Meski, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan konflik masih bisa dihindari melalui penggunaan diplomasi. Di sisi lain, Rusia membantah rencana untuk menyerang dan mengatakan dukungan AS untuk Ukraina adalah sebuah ancaman.

Pada konferensi pers di Pentagon pada hari Jumat, Jenderal Milley, perwira militer paling senior di AS, memperingatkan bahwa skala pasukan Rusia di dekat perbatasannya dengan Ukraina berarti serangan akan memiliki konsekuensi yang parah. "Jika itu dilepaskan ke Ukraina, itu akan menjadi signifikan, sangat signifikan, dan akan mengakibatkan sejumlah besar korban," kata ketua kepala staf gabungan seperti dikutip dari BBC, Sabtu (29/1) Pertempuran di daerah perkotaan yang padat akan menjadi mengerikan, akan mengerikan, tambah Jenderal Milley.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan AS berkomitmen untuk membantu Ukraina mempertahankan diri, termasuk dengan menyediakan lebih banyak persenjataan. "Konflik tidak bisa dihindari. Masih ada waktu dan ruang untuk diplomasi," kata Austin, meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk meredakan situasi. "Tidak ada alasan bahwa situasi ini harus berubah menjadi konflik… Dia dapat memerintahkan pasukannya pergi," tambahnya.

Juga pada hari Jumat, Presiden Biden mengatakan dia akan mengirim sejumlah kecil pasukan ke Eropa Timur dalam waktu dekat, untuk memperkuat kehadiran NATO di wilayah tersebut. Dia tidak merinci di mana mereka akan ditempatkan atau kapan mereka akan tiba. Awal pekan ini, Pentagon mengatakan ada 8.500 pasukan siap tempur yang bersiaga, siap dikerahkan dalam waktu singkat. AS telah menolak permintaan utama Moskow agar NATO mengesampingkan Ukraina bergabung dengan aliansi pertahanan, tetapi bersikeras menawarkan Rusia jalur diplomatik yang serius.

Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Barat mengabaikan masalah keamanan Rusia. Tetapi dia mengatakan dia akan mempelajari tanggapan AS sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan, menurut pembacaan Kremlin tentang panggilan telepon antara Putin dan rekannya dari Prancis. Prancis mengatakan kedua pemimpin telah sepakat tentang perlunya mengurangi ketegangan dan bahwa Presiden Emmanuel Macron telah memberi tahu Putin bahwa Rusia harus menghormati kedaulatan negara negara tetangganya.

Beberapa ribu pasukan Rusia telah diberangkatkan ke Belarus untuk latihan militer bersama yang puncaknya berlangsung antara 10 20 Februari. Pemimpin Belarusia, Alexander Lukashenko, mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin. Ibukota Ukraina, Kyiv, berjarak kurang lebih 150 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Sejumlah pengamat dari Barat mengatakan latihan yang disebut Allied Resolve itu menjadi kesempatan berlatih dalam misi melawan Ukraina. Gambar gambar yang diunggah online menunjukkan bahwa kekuatan militer Rusia, termasuk kendaraan lapis baja, tank dan sistem roket, telah bergerak ke wilayah tersebut. Rusia juga telah mengumumkan pengerahan pesawat tempur canggih Su 35 ke Belarusia, dilengkapi sistem pertahanan udara, amunisi, dan dukungan medis.

Presiden Vladimir Putin telah beberapa kali melakukan perbincangan dengan Presiden Joe Biden, dan hingga kini, diskusi tingkat tinggi terus berlanjut. Namun para pejabat Rusia memperingatkan bahwa penolakan Barat atas permintaan permintaan kunci mereka telah mengakibatkan perbincangan ini "buntu". Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh Rusia akan beraksi. Presiden Biden memperingatkan, invasi skala besar akan mengakibatkan bencana bagi Rusia.

Tapi jika serangan ini hanya kecil semata, dia berkata, negara negara Barat akan "saling ribut soal apa yang harus dilakukan". Gedung Putih menekankan, gerakan apapun yang melewati perbatasan akan dihitung sebagai invasi namun juga memperingatkan bahwa Rusia memiliki persenjataan lain, termasuk serangan siber dan taktik paramiliter. Pentagon menuduh Rusia menyiapkan apa yang disebut operasi bendera palsu, di mana anggotanya akan menyabotase pemberontak yang dibeking Rusia, sehingga ada alasan untuk invasi. Rusia menyangkal tuduhan ini.

Rusia juga telah membagikan 500.000 paspor kepada orang orang yang tinggal di wilayah yang dikuasai para pemberontak, sehingga jika mereka tidak mendapatkan kemauannya, Rusia dapat membenarkan aksi mereka dengan alasan melindungi warga negaranya. Tapi jika tujuan utama Rusia adalah untuk mengusir NATO dari wilayahnya, Rusia sepertinya akan gagal. Sebanyak 30 negara anggota NATO menolak permintaan Rusia. "Kami tidak akan membiarkan siapapun menutup pintu pada kebijakan pintu terbuka NATO," kata Wakil Menteri Dalam Negeri AS Wendy Sherman.

Ukraina menginginkan garis waktu yang jelas untuk bergabung dengan NATO, dan lembaga ini berkata Rusia "tidak punya veto, tidak berhak menggangu proses ini". AS telah dengan jelas menyatakan tidak akan mengirim pasukan untuk berperang membantu Ukraina, namun di sisi lain, mengaku berkomitmen membantu Ukraina mempertahankan "wilayah kedaulatannya". Alat utama untuk melakukannya adalah ancaman sanksi internasional dan bantuan militer berupa penasihat dan persenjataan.

Ancaman Biden tentang sanksi "yang sangat memberatkan" Rusia itu, bisa berarti beberapa hal. Pukulan ekonomi yang utama adalah pemutusan koneksi sistem perbankan Rusia dari sistem pembayaran internasional Swift. Ini biasanya menjadi senjata pamungkas, tapi Latvia berkata tindakan ini akan mengirim pesan kuat untuk Moskow. Ancaman keras lainnya adalah upaya untuk menghalangi pembukaan pipa gas Nord Stream 2 milik Rusia di Jerman, dan persetujuan untuk proyek ini saat ini sedang diputuskan oleh regulator energi Jerman.

Ada pula tindakan yang terkait dengan dana kekayaan negara Rusia, RDIF, atau pembatasan penukaran mata uang rouble ke mata uang negara lain di bank bank. Tapi negara negara Barat masih terbelah. Washington mengatakan berkomitmen untuk "menetapkan langkah" dengan sekutu sekutunya, tapi ada perpecahan antara AS dan Eropa. Para pemimpin Eropa berkeras Rusia tidak bisa begitu saja menentukan masa depan dunia bersama AS. Prancis mengusulkan supaya negara negara Eropa bekerja bersama dengan NATO dan melakukan dialog sendiri dengan Rusia.

Presiden Ukraina menginginkan diadakan pertemuan internasional untuk memecahkan konflik ini, yang melibatkan Prancis, Jerman dan Rusia.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.