Konflik Rusia-Ukraina Diawali Masalah Etnis, Nation Building Dinilai Penting bagi Negara Ragam Etnis

Analis Politik Internasional, Drs Ign Agung Setiawan SE S.IKom MSi PhD memberikan tanggapannya terkait konflik Rusia dan Ukraina yang terus memanas. Agung menilai konflik antara Rusia dan Ukraina diawali oleh permasalahan etnis, yakni etnis Rusia yang tinggal di Ukraina. Pasalnya, Ukraina adalah salah satu negara pecahan Uni Soviet, maka tak heran jika ada etnis Rusia yang tinggal di Ukraina.

Etnis Rusia tersebut pun merasa tidak puas dengan Ukraina dan ingin merdeka, sehingga mereka meminta bantuan kepada Rusia. Permintaan bantuan pada Rusia inilah yang akhirnya menjadi pintu masuk bagi Rusia untuk memasuki wilayah Ukraina. "Yang menarik, konflik ini kan bermula dari etnis. Kalau kita lihat bahwa ternyata persoalan persoalan etnis bisa memicu peperangan yang cukup besar."

Agung pun menekankan, jika hal tersebut terus dibiarkan maka akan menjadi pembenaran untuk negara kuat masuk ke negara lain. Dengan dalih ada sekelompok masyarakat atau etnis yang meminta bantuan. "Kalau dibiarkan ini akan menjadi semacam pembenaran untuk negara negara yang kuat untuk masuk ke negara lain."

"Dengan alasan itu ada sekelompok masyarakat yang minta bantuan pada saya, ya saya bantu, padahal itu kan di negara lain," terang Agung. Agung mengatakan, persoalan etnis di Ukraina ini juga bisa menjadi persoalan di Indonesia. Karena Indonesia termasuk negara yang memiliki banyak etnis, sehingga sangat rawan untuk dimainkan menjadi sebuah konflik.

"Nah, ini menjadi persoalan bagi kita. Mengapa saya mengatakan begitu? Indonesia juga mempunyai etnis yang cukup banyak dan itu rawan untuk bisa dimainkan kemudian bisa menjadi konflik semacam ini," ucap Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UNS ini. Lebih lanjut Agung menegaskan, Nation Building menjadi hal yang penting bagi setiap negara. Pasalnya konflik Ukraina Rusia ini bisa jadi karena Ukraina gagal membentuk Nation Building di wilayah timur negaraya yang mayoritasnya merupakan etnis Rusia.

Sehingga masyarakat Ukraina yang merupakan etnis Rusia tersebut merasa tidak diperdulikan dan lain sebagainya. "Poin saya, Nation Building menjadi penting, saya kira Ukraina gagal untuk membentuk Nation Building yang ada di Timur." "Etnis Rusia, gagal untuk membuat nation Ukraina, kegagalan itu karena etnis Rusia di Ukraina merasa tidak dipedulikan dan sebagainya," tegasnya.

Agung menuturkan, konflik Rusia Ukraina bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat Nation Building. Agar Indonesia bisa terhindar dari eskalasi konflik akibat permasalahan etnis. "Dan ini penting untuk menjadi pelajaran bagi kita untuk nation building untuk menjaga eskalasi konflik dimanapun, dan negara kita kan memiliki kerawanan kerawanan di bidang itu."

"Maka jangan sampai titik rawan itu dimainkan oleh pihak lain yang kemudian memecah persatuan nasional bahkan memecah negara ini," kata dia. Diwartakan sebelumnya, Invasi Rusia ke Ukraina telah memasuki hari ke 5. Dialog damai antara Ukraina dan Moskow akan berlangsung di perbatasan Kyiv dengan Belarus.

Pada pukul 08.03 GMT, Jonah Hull dari Al Jazeera melaporkan dari kota Lviv, Ukraina barat bahwa pembicaraan antara Kyiv dan Moskow akan dimulai sekitar dua jam. "Delegasi yang kami tahu akan tiba, kami tidak tahu siapa yang membentuk delegasi, tetapi mereka digambarkan sebagai (pejabat) level yang cukup tinggi, meskipun jelas bukan level pemimpin," kata Hull. "Meraka akan bertemu di perbatasan Ukraina Belarus di tempat yang disebut Pripyat, (kota itu) disebut kota hantu, berada di pusat zona eksklusif dekat dengan reaktor Chernobyl," jelasnya.

Tampaknya, Hull menambahkan ini adalah pertemuan yang berpotensi cukup menakutkan. "Tidak jelas apa yang dibicarakan, berapa lama akan berlangsung, atau apa yang akan disepakati," ucapnya. Ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pembicaraan antara Moskow dan Ukraina akan di mulai tengah hari waktu Moskow, lapor CNN mengutip TASS.

Vladimir Medinsky mengatakan timnya siap untuk negosiasi segera setelah kedatangan mereka (Ukraina). Kantor Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko menelepon Zelensky pada Minggu (27/2/2022) dan menawarkan jaminan keamanan. "Mengambil tanggung jawab untuk memastikan bahwa semua pesawat, helikopter dan rudal yang ditempatkan di wilayah Belarusia akan tetap berada di darat selama perjalanan delegasi Ukraina, bertemu dan kembali," ujar Lukashenko.

Pertemuan yang direncanakan Senin itu menyusul serangkaian pernyataan dari Kremlin, yang mengklaim sebelumnya pihak Ukraina telah menolak proposal Rusia untuk bertemu di Belarus dengan proposal untuk bertemu di Warsawa dan kemudian membatalkan kontak. Kantor Zelensky membantah klaim bahwa Kyiv menolak untuk bernegosiasi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.